Di Parepare, Sulawesi Selatan, ada sebuah seni tari yang biasa disebut
dengan istilah jeppeng. Tarian tersebut di bawa oleh para saudagar Arab ke Indonesia, sejak abad ke enam belas, dan hingga kini tarian ini
masih di pertahankan oleh masyarakat setempat. Jeppeng sendiri memiliki makna ungkapan yang berarti pergaulan.
Jeppeng adalah tarian khas padang pasir yang di bawa oleh para saudagar
Arab, yang kala itu masuk ke daerah Bugis Makassar di abad ke enam belas. Tarian ini biasa dilakukan warga Parepare, Sulawesi Selatan, untuk menyambut tamu undangan dan mempererat hubungan silaturrahmi antarwarga, serta di pakai untuk mengisi acara-acara yang
bernuansa kegembiraan, misalnya pengantin, khitanan dan syukuran kelahiran bayi. Karena jeppeng memiliki arti sebagai tarian pergaulan dan kegembiraan.
Tarian ini biasanya di iringi musik yang bernuansa padang pasir, dan
masih satu bagian dari jenis tari zapin yang di kenal di berbagai wilayah di Indonesia. hanya yang berbeda dari tarian ini adalah,
pakaian khas Bugis, yakni songko to Bone dan sarung sabbe. Serta peserta tari yang rata-rata masih tergolong remaja ini, membuat varisai gerakan badan. Jika di nikmati memiliki ke unikan tersendiri. Tarian semacam ini di Parepare , Sulawesi Selatan masih
dipertahankan. Berbagai sanggar yang melatih tarian ini masih cukup
banyak.
Para penari yang masih tergolong anak-anak ini, selain pentas di tingkat lokal, mereka juga pernah di undang pentas di tingkat internasional seperti di johor, Malaysia. Penampilan tim tari asal kota Parepare ini, mewakili Sulawesi Selatan dalam sebuah vestival tari, bersama lima tim lainnya dari beberapa kota
di Indonesia. Para anak-anak ini mengaku tingkat kesulitan pada tarian ini adalah keserasian dan kekompakan nantar penari dan umumnya peserta tari hanya empat sampai enam orang.
Sementara itu untuk menguasai tarian jenis ini tidak memakan waktu
cukup lama, jika rutin latihan, hanya memakan waktu dua minggu namun jika tidak maka akan memakan waktu berbulan-bulan.para seniman tari
jeppeng berharap agar kesenian tersebut bisa diteruskan oleh generasi muda. jangan sampai, tarian jeppeng hanya menyisakan cerita di tanah Bugis.
2013/07/31
Waterboom Parepare Padat Pengunjung
PAREPARE – Wahana rekreasi Waterboom Parepare, Minggu (24/6), atau
menjelang hari pertama liburan sekolah dipadati pengunjung. Pengelola
memperkirakan jumlah pengunjung mencapai ribuan orang, baik yang dari
Kota Parepare sendiri maupun yang datang dari daerah tetangga.
Pengelola Waterboom Parepare, Ferry, menjelaskan, wahana yang dioperasikan pada tahun 2010 itu tergolong lengkap. Selain memiliki tiga luncuran dengan tingkat ketinggian yang berbeda-beda dan kolam renang yang representatif, wahana pemandian ini juga dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung yang semakin memanjakan pengunjungnya.
Dan dalam waktu dekat ini, katanya, pihaknya akan mendatangkan satu lagi permainan baru untuk anak-anak yaitu permainan Jet Coaster, yaitu salah satu permainan anak-anak yang bisa mengangkat dan berputar.
Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki adalah adanya ketersediaan puluhan gasebo-gasebo. Pengunjung dapat bersantai bersama keluarganya sambil menikmati pertunjukan musik pada hari-hari libur atau sekedar duduk-duduk di lokasi waterboom ini.
Ada juga kolam khusus disertai luncur-luncuran untuk anak-anak. Terdapat pula tribun mini untuk menyaksikan aktifitas pengunjung di kolam maupun di luncur-luncuran.
Bagi pengunjung dari kalangan Muslim juga tidak perlu khawatir jika hendak berlama-lama hingga waktu shalat tiba karena disediakan pula musholah yang cukup luas menampung jamaah.
Lebih lanjut Ferry mengatakan bahwa dalam mengelola tempat wisata seperti Waterboom ini ia mengedepankan faktor kenyamanan dan keamanan. Setiap saat harus memberi perhatian pada pengunjung lewat microfon yang terdengar pada semua tempat di lokasi yang luasnya kurang lebih 3.500 meter persegi ini.
Informasi peringatan untuk orang tua agar tetap memperhatikan anaknya saat berenang atau bermain, kedalaman kolam untuk orang dewasa dan anak-anak, serta aturan pada pria agar tidak memakai baju saat turun berenang kecuali pakaian mandi.
Untuk menikmati semua fasilitas yang tersedia, pengunjung hanya dipungut retribusi sebanyak Rp 15.000 per orang untuk orang dewasa, sedangkan bagi anak-anak cukup Rp 10.000. Bagi rombongan dengan jumlah 30 orang akan dibebaskan pembayaran dua orang.
Pengelola Waterboom Parepare, Ferry, menjelaskan, wahana yang dioperasikan pada tahun 2010 itu tergolong lengkap. Selain memiliki tiga luncuran dengan tingkat ketinggian yang berbeda-beda dan kolam renang yang representatif, wahana pemandian ini juga dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung yang semakin memanjakan pengunjungnya.
Dan dalam waktu dekat ini, katanya, pihaknya akan mendatangkan satu lagi permainan baru untuk anak-anak yaitu permainan Jet Coaster, yaitu salah satu permainan anak-anak yang bisa mengangkat dan berputar.
Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki adalah adanya ketersediaan puluhan gasebo-gasebo. Pengunjung dapat bersantai bersama keluarganya sambil menikmati pertunjukan musik pada hari-hari libur atau sekedar duduk-duduk di lokasi waterboom ini.
Ada juga kolam khusus disertai luncur-luncuran untuk anak-anak. Terdapat pula tribun mini untuk menyaksikan aktifitas pengunjung di kolam maupun di luncur-luncuran.
Bagi pengunjung dari kalangan Muslim juga tidak perlu khawatir jika hendak berlama-lama hingga waktu shalat tiba karena disediakan pula musholah yang cukup luas menampung jamaah.
Lebih lanjut Ferry mengatakan bahwa dalam mengelola tempat wisata seperti Waterboom ini ia mengedepankan faktor kenyamanan dan keamanan. Setiap saat harus memberi perhatian pada pengunjung lewat microfon yang terdengar pada semua tempat di lokasi yang luasnya kurang lebih 3.500 meter persegi ini.
Informasi peringatan untuk orang tua agar tetap memperhatikan anaknya saat berenang atau bermain, kedalaman kolam untuk orang dewasa dan anak-anak, serta aturan pada pria agar tidak memakai baju saat turun berenang kecuali pakaian mandi.
Untuk menikmati semua fasilitas yang tersedia, pengunjung hanya dipungut retribusi sebanyak Rp 15.000 per orang untuk orang dewasa, sedangkan bagi anak-anak cukup Rp 10.000. Bagi rombongan dengan jumlah 30 orang akan dibebaskan pembayaran dua orang.
Fort Rotterdam Makassar
Fort Rotterdam Makassar
Fort Rotterdam ini awalnya dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X
dengan nama Benteng Ujung Pandang. Di dalamnya terdapat rumah panggung
khas Gowa di mana Raja dan keluarganya tinggal. Pada saat Belanda
menguasai are Banda dan Maluku, mereka mutuskan untuk manaklukkan
Kerajaan Gowa agar armada dagang VOC dapat masuk dan merapat dengan
mudah di Sulawesi. Dalam usahanya menaklukkan Gowa, Belanda menyewa
pasukan dari Maluku. Selama setahun lebih Benteng digempur, akhirnya
Belanda berhasil masuk serta menghancurkan rumah Raja dan seisi Benteng.
Pihak Belanda memaksa sultan Hasanuddin untuk menandatangani Perjanjian
Bongaya pada tahun 1667, dimana salah satu pasal dalam perjanjian
tersebut mewajibkan Kerajaan Gowa menyerahkan Benteng kepada Belanda.
Setelah Benteng diserahkan kepada Belanda, Benteng kembali dibangun dan ditata sesuai dengan arsitektur Belanda kemudian namanya diubah menjadi Ford Rotterdam. Benteng ini kemudian digunakan sebagai pusat pemerintahan dan penampungan rempah-rempah di Wilayah Indonesia Timur. Pada masa penjajahan Jepang, Benteng ini difungsikan sebagai pusat studi pertanian dan bahasa. Kemudian TNI dijadikan sebagai pusat komando. Dan sekarang Benteng ini menjadi pusat kebudayaan dan seni.
Di dalam Benteng ini terdapat beberapa ruang tahanan/penjara yang slaah satunya digunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro. Selain itu, terdapat juga sebuah gereja peninggalan Belanda dan Meseum La Galigo yang menyimpan kurang lebih 4.999 koleksi. Koleksi tersebut meliputi koleksi prasejarah, numismatic, keramik asing, sejarah, naskah, dan etnografi. Koleksi Etnografi ini terdiri dari berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup dan benda lain yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, da Toraja. Saat ini, selain sebagai tempat wisata bersejarah, Benteng ini juga dijadikan sebagai pusat kebudayaan Sulawesi Selatan. www.sulsel.go.id
Fort Rotterdam, Makassar. Sumber foto: www.sulses.go.id
Setelah Benteng diserahkan kepada Belanda, Benteng kembali dibangun dan ditata sesuai dengan arsitektur Belanda kemudian namanya diubah menjadi Ford Rotterdam. Benteng ini kemudian digunakan sebagai pusat pemerintahan dan penampungan rempah-rempah di Wilayah Indonesia Timur. Pada masa penjajahan Jepang, Benteng ini difungsikan sebagai pusat studi pertanian dan bahasa. Kemudian TNI dijadikan sebagai pusat komando. Dan sekarang Benteng ini menjadi pusat kebudayaan dan seni.
Di dalam Benteng ini terdapat beberapa ruang tahanan/penjara yang slaah satunya digunakan untuk menahan Pangeran Diponegoro. Selain itu, terdapat juga sebuah gereja peninggalan Belanda dan Meseum La Galigo yang menyimpan kurang lebih 4.999 koleksi. Koleksi tersebut meliputi koleksi prasejarah, numismatic, keramik asing, sejarah, naskah, dan etnografi. Koleksi Etnografi ini terdiri dari berbagai jenis hasil teknologi, kesenian, peralatan hidup dan benda lain yang dibuat dan digunakan oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, da Toraja. Saat ini, selain sebagai tempat wisata bersejarah, Benteng ini juga dijadikan sebagai pusat kebudayaan Sulawesi Selatan. www.sulsel.go.id
Benteng Somba Opu Makassar
Benteng Somba Opu Makassar
Benteng Somba Opu dibangun pada tahun 1525 oleh Sultan Gowa ke IX.
Benteng ini merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang
ramai dikunjungi pedagang dari Asia dan Eropa. Pada tahun 1669, benteng
ini dikuasai oleh VOC kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak
pasang. Tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah
ilmuawan. Dan pada tahun 1990, benteng ini direkonstruksi sehingga
tampak lebih baik. Kini, Benteng Somba Opu menjadi sebuah objek wisata
bersejarah di Kota Makassar yang di dalamnya terdapat beberapa bangunan
rumah adat Sulawesi Selatan yang mewakili suku Bugis, Makassar, Mandar,
dan Toraja. Selain itu, terdapat juga sebuah meriam dengan panjang 9 m
dan berat 9.500 kg serta sebuah museum yang berisi benda-benda
bersejarah peninggalan Kesultanan Gowa.
Benteng Somba Opu. Sumber foto: www.sulsel.go.id
Pulau Samalona Makassar
Pulau SamalonaMakassar
Pulau Samalona merupakan wilayah Kota Makassar yang luasnya sekitar
2,34 hektar. Pulau ini merupakan salah satu objek wisata bahari yang
banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Kawasan pulau ini
sangat bagus utuk menyelam, karena di sekelilingnya terdapat
karang-karang laut yang dihuni beraneka ragam ikan tropis dan biota laut
lainnya. Pulau ini berjarak sekitar 6,8 Km dari Kota Makassar yang
dapat ditempuh sekitar 20 – 30 menit dengan menggunakan speed boot. Di
lokasi ini juga terdapat beberapa penginapan sederhana berbentuk rumah
panggung yang dapat menampung sekitar 20 orang. Selain itu, tersedia
juga beberapa warung makanan yang menyediakan aneka ragam seafood segar.
Pulau Samalona, Makassar. Sumber Foto: www.sulsel.go.id
Pantai Losari Makassar
Pantai Losari merupakan icon Kota Makassar. Pantai ini dulunya merupakan
pantai dengan meja terpanjang di dunia, karena warung-warung tenda yang
berjejer di sepanjang tanggul pantai. Namun saat ini warung-warung
tersebut telah direlokasi ke tempat yang tidak jauh dari kawasan wisata.
Pemerintah Kota Makassar telah memperindah pantai ini dengan membuat
anjungan, sehingga lebih bersih dan nyaman untuk dikunjungi. Di sekitar
pantai ini terdapat banyak kafe-kafe dan restoran yang menyajikan
makanan laut yang masih segar. Selain itu, pengunjung juga dapat
menikmati makanan khas Kota Makassar, seperti pisang epek, pisang ijo,
coto Makassar, sop konro, dan lain sebagainya. Disepanjang pantai banyak
juga terdapat penginapan, baik hotel kelas melati sampai hotel
berbintang. Terdapat juga rumah sakit dan pusat perbelanjaan emas serta
kerajinan/souvenir khas Makassar. Lokasi pantai ini terletak di Jantung
Kota Makasar, yaitu di Jalan Penghibur sebelah barat Kota Makassar.
Langganan:
Postingan (Atom)